“Negara
ini butuh banyak relawan”
Merdeka !! Merdeka !!!
Kata yang dilantangkan seluruh rakyat
Indonesia 1945. Tapi benarkah kita telah merdeka ??
Ya, kita memang telah merdeka secara
lahiriah (fisik). Namun kini penjajah yang lebih menakutkan telah menaklukan
diri kita, yaitu HAWA NAFSU. Keegoisan, angkuh, sombong, KKN menggerogoti
batin. Merdeka ??
Dimana warga negara Indonesia yang dulu
rela berkorban untuk bangsa dan tanah air ? Kemana jiwa-jiwa para aktivis
sosial yang tak kenal pamrih ? Semua yang dilakukan kini bernilai materil. “Dapat apa, beri apa”.
Saya ingat perkataan seseorang :“Untuk apa
sih repot-repot mikirin orang lain, pikirin aja dulu diri sendiri. Nanti kalau
udah kaya baru deh tuh kasih-kasihin orang lain.”
Menunggu kaya baru peduli ?? Selamanya kita
tidak akan merasakan kekayaan jika batin ini tidak pernah kaya. Kini masih
adakah relawan di negeri kita ?
Pembicara di PM ke-5 adalah Muhammad Ihsan.
Ka Ihsan membahas tentang “Negeri Para
Relawan”.
M. Natsir : “Masihkah kita rela berkorban ?”
Setelah 6 tahun merdeka, M. Natsir
mempertanyakan tentang semangat rela berkorban yang kian padam. Tak terdengar
lagi teriakan-teriakan kepedulian sosial yang dulu berkoar disegala penjuru
negeri. Masih adakah rakyat yang rela membumihanguskan rumah dan seluruh harta
bendanya demi bangsa dan negara seperti yang dilakukan para rakyat Bandung
Selatan pada peristiwa yang kita kenal sebagai “Bandung Lautan Api”.
Cara pandang yang diasumsi oleh bangsa kini
bukan lagi Semangat Rela Berkorban, melainkan cara pandang Materialisme.
Tidak malukah kita dengan negara maju yang
lebih peka dan peduli dengan sesama. “Negara Maju dan Negara Relawan”.
~Kanada : membangun etos relawan yang di
design langsung oleh negara. Ada hari khusus yang diapresiasikan sebagai hari
kepedulian sosial. Setiap anak di berikan satu mentor (orang dewasa) sebagai
pembimbing.
Sebuah hal yang luar biasa dan telah
terorganisir dengn baik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar