Overview
Zirkonium
adalah logam putih keabuan yang jarang dijumpai di alam bebas. Zirkonium merupakan salah satu unsur alam
yang memiliki sifat tahan terhadap temperatur tinggi. Zirkonium (Zr) termasuk unsur
golongan IVB dan memiliki nomor atom 40
dengan berat atom 91,22 g/mol dan konfigurasi elektron [Kr]4d₂5s₂. Sumber utama
Zr adalah zircon (ZrSiO) yang umumnya ditemukan dalam pasir dengan mineral berat
seperti ilmenite dan rutile yang merupakan
mineral titanium. Mineral utama yang mengandung unsur zirkonium adalah
zirkon/zirkonium silika (ZrO2.SiO2) dan baddeleyit/zirkonium oksida (ZrO2. Keberadaan
Zr selalu bersama dengan hafnium (Hf) karena mempunyai kulit elektron terluar
yang sama, sehingga untuk menghasilkan Zr murni harus dipisahkan dari Hf.
Zirkon
adalah mineral milik kelompok nesosilicates . Nama kimianya adalah zirkonium
silikat dan rumus kimia yang sesuai adalah Zr Si O. Zirkon dalam bentuk silikat
mencair dengan unsur-unsur yang tidak kompatibel terkonsentrasi dan menerima
kekuatan tinggi bidang elemen ke dalam strukturnya. Sebagai contoh, hafnium
hampir selalu hadir dalam jumlah berkisar antara 1 sampai 4%. Struktur kristal
zirkon adalah tetragonal sistem kristal . Warna alami dari zirkon bervariasi
antara berwarna hijau, kuning-keemasan, merah, coklat, biru, dan spesimen tak
berwarna yang menunjukkan kualitas permata adalah pengganti populer untuk
berlian ; spesimen ini juga dikenal sebagai "berlian Matura".
Yang bahasa
Inggris kata "Zirkon" berasal dari "Zirkon," yang merupakan
Jerman adaptasi dari kata-kata zirkon
Kuning disebut "eceng gondok", dari bunga hyacinthus , yang namanya
berasal dari Yunani Kuno, di Abad Pertengahan semua batu kuning asal India
Timur disebut gondok. Pada umumnya zirkon mengandung unsur besi, kalsium
sodium, mangan, dan unsur lainnya yang menyebabkan warna pada zirkon
bervariasi, seperti putih bening hingga kuning, kehijauan, coklat kemerahan, kuning
kecoklatan, dan gelap, sistem kristal monoklin, prismatik, dipiramida, dan
ditetragonal, kilap lilin sampai logam, belahan sempurna – tidak beraturan,
kekerasan 6,5 – 7,5, berat jenis 4,6 – 5,8, indeks refraksi 1,92 – 2,19, hilang
pijar 0,1%, dan titik lebur 2.500◦C.
Zirkon juga
merupakan mineral yang bersifat tahan korosi kestabilan dalam temperatur tinggi
yang baik. Zirkon tidak larut dalam air namun larut dalam larutan asam serta
dapat mengendap pada larutan basa. Sistem kristalnya dapat berupa monoklinik,
heksagonal, tetragonal dan dipiramid. Berat jenis zircon 4,6-5,8.
Peta Kelimpahan
Zirkonium ditemukan dalam jumlah banyak di
bintang-bintang tipe S, dan juga telah diidentifikasikan dalam matahari dan
meteor.
Analisis bebatuan bulan yang diambil dari
berbagai misi Apollo menunjukkan kandungan zirkonium yang tinggi, dibandingkan
dengan bebatuan bumi. Dalam sistem
klasifikasi Hubble, galaksi spiral digolongkan sebagai tipe S, diikuti sebuah
huruf (a, b, atau c) yang menunjukkan tingkat kerapatan dari lengan spiral dan
ukuran dari tonjolan pusat.
Sedangkan galaksi
yang terdapat bumi di dalamnya merupakan galaksi yang memiliki kumpulan bintang berbentuk
batang lurus yang memanjang keluar dari sisi daerah inti dan kemudian bergabung
dengan struktur lengan spiral, di sistem klasifikasi Hubble, galaksi ini
dikategorikan sebagai bintang tipe SB.
Karena
kesulitan untuk menemukan dalam keadaan zirkonium murni, maka cara yang lebih
mudah adalah mereaksikan dari bentuk yang mudah ditemukan dibumi yaitu zircon
(zirkonium silika).
Zircon
terbentuk sebagai mineral ikutan (accessory mineral) pada baatuan yang terutama
mengandung Na-feldpar, seperti bataun beku asam (granit dan syenit) dan bataun
metamorf (gneiss dan skiss). Secara ekonomis, zircon ditemukan dalam bentuk
butiran (ukuran pasir), baik yang terdapat pada sedimen sungai maupun sedimen pantai. Pada umumnya
zircon terkosentrasi bersama-sama mineral titanium (rutil dan ilmenit),
monazite dan mineral berat lainnya. Di Indonesia zircon merupakan sedimen
sungai yang terdapat di daratan dan lepas pantai. Cebakan keseluruhan mineral
ini pada umumnya berasal dari batu granit yang telah mengalami pelapukan dan
transportasi. Mineral zirkon dapat ditemukan sebagai butir-butir kristal
berukuran kecil di dalam sebagian besar batuan beku dan beberapa batuan
metamorf, tersebar dalam jumlah jarang melebihi 1% dari total massa batuan.
Secara umum konsentrasi mineral zirkon terbentuk sebagai rombakan di dalam
aluvium dan sering berasosiasi dengan mineral berat lain seperti ilmenit,
monazit, rutil, dan xenotim.
Keberadaan deposit zirkon di Indonesia yang berpotensi untuk dilakukan
proses eksplorasi, eksploitasi, dan produksi terdapat di daerah kepulauan Riau,
Bangka-Belitung, dan pulau Kalimantan.
Peta
Penyebaran Zirkon di Indonesia
Senyawa
zirkon sebagai salah satu mineral (termasuk logam tanah jarang) yang memiliki
potensi cadangan yang cukup besar dan tersebar di wilayah indonesia.
Riset atau Penelitian
Saat ini
plasma torch ternyata telah menjadi pilihan teknologi pembangkit panas tinggi yang
lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan teknologi dapur (furnace) yang menggunakan
bahan bakar fosil, pijaran kawat nikelin, microwave maupun radio frekuensi. Panas
tinggi yang dibangkitkan dari sistem plasma torch sudah banyak digunakan oleh beberapa
industri logam di luar negeri untuk peleburan bijih logam menjadi metal ingot dan
metal alloy. Pada industri pengolahan pasir zirkon menjadi zirkon ingot, maka teknologi plasmatorch dan DC arc plasma dapat digunakan pada awal proses yaitu disosiasi pasir zirkon (ZrSiO₄) menjadi ZrO₂ dan SiO seperti yang dilakukan di laboratorium kimia mineraldivisi CSIRO Melbourne pada tahun 1983 dengan skema reaktor plasma seperti ditunjukkan pada gambar.
Penggunaan
teknologi plasma torch untuk disosiasi zirkon (ZrO₂) dari pengotor SiO₂ dalam
umpan konsentrat pasir zirkon (ZrSiO₄) dengan kadar ZrO₂ sekitar 66% berat
telah berhasil dilakukan oleh South African Nuclear Energy Corporation (Necsa)
seperti ditunjukkan pada gambar dibawah :
Skema pabrik plasma dissociated zircon (PDZ)
di Nesca
Teknologi
arc plasma torch untuk proses pengolahan zirkon adalah umpan Zr(Hf)SiO₄ dilewatkan
nyala plasma pada daerah suhu tinggi, maka akan terdisosiasi menjadi zirkonia
Zr(Hf)O₂ monoklinik dan SiO₂ serta seperti reaktor PDZ .
Dilakukan
pendinginan cepat (quenching) untuk mencegah re-asosiasi Zr(Hf)O₂ dan SiO₂ serta
zirkonia monoklinik yang terikut dalam silica amorf yang terbentuk. Prose seperti
ini adalah termasuk proses kering pada pengolahan pasir zirkon menjadi
zirkonia.
Reaktor PDZ
di Nesca
Konsentrat
pasir zirkon sebagai umpan yang dimasukkan ke dalam reaktor PDZ berasal dari
Afrika Selatan dan Australia.
Di Indonesia belum terdapat pabrik yang
mengolah pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium seperti zirconium
oxychloride atau zirconil chloride: ZOC (ZrOCl₂.8H₂O), zirconium sulphate: ZOS
(Zr(SO₄)₂.4H₂O), zirconia (ZrSiO₂), zirconium metal (Zr), dll. Namun PTAPB-BATAN
Yogyakarta mempunyai fasilitas pengolahan zirkonium silikat menjadi beberapa
produk zirkonium seperti ZOC, ZOH, dan zirkonia pada skala pilot plant secara
batch seperti ditunjukkan oleh gambar berikut :
Unit kalsinator skala laboratorium beroperasi
pada suhu 1000◦C untuk mengkonversi ZOH menjadi zirkonia dengan kapasitas
produksi 0,2 kg ZrO₂/jam. Sedangkan unit pelindian HCl untuk membuat ZOC dan
unit pengendapan ZOH untuk membuat Zr(OH)₄ secara batch pada unit pemurnian
zirkonium di PTAPB-BATAN telah dimodifikasi menjadi proses secara sinambung
pada tahun 2010 seperti ditunjukkan pada gambar :
Unit proses pembuatan ZOC dan ZOH di
PTAPB-BATAN
Aplikasi
Zirkonium
digunakan dalam paduan seperti zircaloy, yang digunakan dalam aplikasi nuklir
karena tidak mudah menyerap neutron. Juga digunakan dalam catalytic converters,
perkusi topi dan tungku batu bata. Zirkonium Baddeleyite dan tidak murni
(zirkonia) digunakan di laboratorium crucibles.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar