❥ Kalau saja Al-Qur’an punya rasa CEMBURU..
❥ Ia mungkin iri dengan Handphone yang setiap saat hampir selalu dalam genggaman..
❥ Begitu ada pesan langsung dilihat begitu ada telepon langsung diangkat..
❥ Atau ia iri dengan twitter dan facebook..
❥ Yang notifikasinya mampu mengalihkan perhatian..
❥ Yang beritanya dilihat berkal-kali sehari yang kalimatnya dicermati bahkan dinanti..
❥ Atau ia iri dengan teman sejenisnya..
❥ Novel, majalah, buku-buku yang tebalnya berkali-lipat tapi mampu dilahap dengan singkat..
❥ Kalau saja Al-Qur’an punya rasa cemburu..
❥ Ia bisa saja marah dan memutuskan hubungan dengan pemiliknya karena mereka lalai tak memprioritaskannya..
❥ Tapi kawan,cemburu nya Al-Qur’an itu UNIK :
❥ Bukan sekedar cemburu karena egois tak diperhatikan..
❥ Ia tak sedih apalagi marah, ia tak berontak, apalagi merengek minta diperhatikan..
❥ Cukup baginya memberi kita pelajaran dengan membuat kita lupa padanya..
❥ Membuat bagian darinya yang telah melekat dalam ingatan,meluap satu per satu dan ‘cemburu’ itu lebih menyedihkan,dibanding marahnya pihak lain yang cemburu..
❥ Karena saat pihak lain cemburu, bisa jadi mereka hanya marah dan siap membaik saat kita kembali..
❥ Tapi saat Al-Qur’an ‘cemburu’, ia akan meluapkan ingatan kita tentangnya,yang membuat kita tertatih, saat ingin kembali pada NYA,Ia terlalu spesial..
❥ Yah, Al-Qur’an terlalu spesial untuk dibandingkan dengan apapun, terlalu mahal untuk disejajarkan dengan apapun.
Peka lah wahai sahabat, berpegang teguh terhadap kalam Illahi. Jangan sampai Al-qur'an cemburu dan enggan memberi syafa'atnya untukmu saat Yaumul Hisab.
Ingatlah:
❥ Ia mungkin iri dengan Handphone yang setiap saat hampir selalu dalam genggaman..
❥ Begitu ada pesan langsung dilihat begitu ada telepon langsung diangkat..
❥ Atau ia iri dengan twitter dan facebook..
❥ Yang notifikasinya mampu mengalihkan perhatian..
❥ Yang beritanya dilihat berkal-kali sehari yang kalimatnya dicermati bahkan dinanti..
❥ Atau ia iri dengan teman sejenisnya..
❥ Novel, majalah, buku-buku yang tebalnya berkali-lipat tapi mampu dilahap dengan singkat..
❥ Kalau saja Al-Qur’an punya rasa cemburu..
❥ Ia bisa saja marah dan memutuskan hubungan dengan pemiliknya karena mereka lalai tak memprioritaskannya..
❥ Tapi kawan,cemburu nya Al-Qur’an itu UNIK :
❥ Bukan sekedar cemburu karena egois tak diperhatikan..
❥ Ia tak sedih apalagi marah, ia tak berontak, apalagi merengek minta diperhatikan..
❥ Cukup baginya memberi kita pelajaran dengan membuat kita lupa padanya..
❥ Membuat bagian darinya yang telah melekat dalam ingatan,meluap satu per satu dan ‘cemburu’ itu lebih menyedihkan,dibanding marahnya pihak lain yang cemburu..
❥ Karena saat pihak lain cemburu, bisa jadi mereka hanya marah dan siap membaik saat kita kembali..
❥ Tapi saat Al-Qur’an ‘cemburu’, ia akan meluapkan ingatan kita tentangnya,yang membuat kita tertatih, saat ingin kembali pada NYA,Ia terlalu spesial..
❥ Yah, Al-Qur’an terlalu spesial untuk dibandingkan dengan apapun, terlalu mahal untuk disejajarkan dengan apapun.
Peka lah wahai sahabat, berpegang teguh terhadap kalam Illahi. Jangan sampai Al-qur'an cemburu dan enggan memberi syafa'atnya untukmu saat Yaumul Hisab.
Ingatlah:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :
مَنْ
قَرَأَ الْقُرْآنَ وَاسْتَظْهَرَهُ، فَأَحَلَّ حَلالَهُ وَحَرَّمَ
حَرَامَهُ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ، وَشَفَّعَهُ فِي عَشْرَةٍ
مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ.
رواه الترمذي
Ali ibn Abi Talib ra berkata : Rasulullah saw bersabda :
Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan
menampakkannya dengan menghalalkan apa yang dihalalkan al-Qur’an dan
mengharamkan apa yang diharamkannya, maka Allah akan masukkan orang
tersebut ke dalam surga dan diberi hak untuk memberi
syafa’at/pertolongan kepada sepuluh orang karabatnya yang semuanya sudah
ditentukan masuk ke dalam neraka.
Hadis da’if, diriwayatkan oleh al-Tirmizi (hn 2830). Menurut beliau, dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang dinilai da’if, yaitu Hafs bin Sulaiman. (lihat biografinya dalam kitab Tahdzib al-Kamal, karya al-Mizzi, jil VII, h. 10-12; Taqrib al-Tahdzib, karya Ibn Hajar, h. 172)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar